Sabtu, 10 Maret 2012

Sinopsis Film Negeri 5 Menara

Negeri 5 Menara. Salah satu jenis cerita yang saya suka.Ditambah pepatah Arab yang dijadikan mantra utama dalam kisahnya : Man Jadda wa Jada, membuat saya merinding. Rasa merinding itu sudah timbul sejak pertama kali saya membaca Novel nya tahun 2009. Sehingga, ketika tau bahwa sudah bisa menonton di bioskop film ini mulai tanggal 1 Maret 2012, mulailah saya hunting waktu dan hunting temen untuk nonton. Kalo mu nonton dg suami rasanya nanti tidak akan sempat krn agenda yg penuh di weekend ini. Alhamdulillaah dapat temen nonton dg mbak Putri dengan sebelumnya membuat perjanjian. Kalo pagi itu kami mendapat pencerahan tesis, maka siang harinya kami nonton. ALhamdulillaah pagi harinya kami mendapatkan pencerahan tesis dari salah satu teman kami. Sehingga kami pergi dengan hati ringan ke Plaza Ambarukmo. Alasan mbak Putri, mb kalo ke XXI nanti kalo nunggu lama bosen gak bisa kemana2 hehee, baiklahh jadilah siang itu kami pergi dan menonton film Negeri 5 Menara.
Keindahan alam minang segera menyambut kami di adegan awal film,,, Suasana khas kampung yang sejuk, hijau dan indah. Gak nyangka Kipli bisa berperan jadi Randai yang jadi sparing partnernya Alif itu. Cerita langsung dimulai dari saat kelulusan keduanya. Randai yang akan melanjutkan SMA ke Bandung dan bercita-cita kuliah di ITB seperti idolanya Pak habibie,,, dan Alif yang harus mengubur impiannya kuliah di ITB karena Amaknya bersikeras untuk menyekolahkannya di Pesantren Madani supaya bisa menjadi cendekiawan Muslim dari Padang seperti tokoh besar Moh. Hatta dan Buya Hamka. Jabatlah hidupmu, jalanilah. Baru kamu akan tahu apakah pilihanmu itu baik atau buruk. Itulah pesan dari Bapaknya Alif ketika Alif masih galau antar mengikuti mimpinya atau menjalankan amanah Amaknya. Terbayang, pada usia sebelia itu diharuskan memilih. sungguh suatu pendewasaan menurut saya. dan sebagai ibu, saya langsung menganalogikannya terhadap anak saya. saya berjanji, akan memberikan pilihan yg adil untuk anak-anak saya. memberikan pengetahuan yg cukup ttg seluruh model sistem pendidikan dan akan menyerhakan pilihan akhir sepenuhnya kepada mereka, insyaAllah,, Amiin. Akhirnya dalam cerita itu, Alif memcah kebekuan di keluarga selama beberapa hari dg berujar, Amak, rendang kalo dimasukkan ke kaleng susu yang besar tahan berapa hari ya, untuk bekal ke Jawa kata Alif... disini air mata saya mulai mengalir. rasanya saya ikut juga bergulat memilih nasib. Setting berubah ke daerah Ponorogo Jawa Timur. Masih dengan alam yang sama-sama indahnya. hijau dan damai. Benar seperti kata Salman Aristo, penulis skenario film ini dalam salah satu acara bahwa setting film ini kan sudah belasan tahun lalu, dan masih banyak org amaze, kok di pesantren gak sarungan aja, tapi pake jas dan lancar bahasa inggrisnya, mmg paradigma pendidikan kita msh linier kok hihihi termasuk saya pelakunya qeqeqe Selanjutnya dikisahkan pertemanan dari Alif, Said, Baso, Raja, Atang dan Dulmajid. Apabila saya membaca novelnya, karakter ke enam tokoh tsb sangat kuat. tapi di film nya menurut saya yg ditonjolkan adlh Baso. Baso sbg sosok murid pandai dan banyak ide. yang lain kurang menonjol. Waktu adegan Baso meninggalkan pesantren krn harus merawat neneknya yg sudah tua, mengingatkan saya pada sosok Lintang di film Laskar pelangi,,, sungguh banyak memang org jenius yg harus menyerah krn keadaan :( Selanjutnya kisah Alif menjalanikehidupan di pesantren tanpa Baso... puncaknya adlh pementasan seni drama Ibnu Batutah yg sukses besar,,, Adegan diakhiri dg perjumpaan Alif, Raja dan Atang di London

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar